Menapak Tilas Sejarah Perjuangan Rakyat Sukabumi: Urgensi Kehadiran Galeri di Gedung Juang 45
SUKABUMI– KitaPost.com – Sejarah besar sering kali terkubur oleh hiruk-pikuk modernisasi jika tidak dirawat dalam sebuah wadah memori kolektif yang kuat. Di jantung Kota Sukabumi, Gedung Juang 45 berdiri kokoh sebagai saksi bisu heroisme masa lalu. Namun, di balik dinding-dinding tuanya, terdapat sebuah kekosongan literatur visual dan dokumentasi yang memprihatinkan. Hingga detik ini, Sukabumi belum memiliki galeri sejarah yang secara spesifik merangkum heroisme rakyatnya dalam satu atap yang aksesibel bagi publik.
Absennya pusat informasi sejarah yang mumpuni ini memicu kekhawatiran akan terjadinya amnesia sejarah di kalangan generasi muda. Padahal, Sukabumi memiliki rekam jejak panjang dalam masa pergerakan nasional hingga mempertahankan kemerdekaan yang seharusnya menjadi kompas moral bagi para pemuda saat ini.
Kegelisahan terhadap minimnya dokumentasi sejarah ini ditangkap secara serius oleh Persatuan Wartawan Sejahtera (PWSI). Sebagai organisasi yang berinteraksi langsung dengan dinamika sosial, PWSI memandang bahwa penyelamatan sejarah perjuangan rakyat Sukabumi adalah prioritas mendesak.
Penggagas Galeri, Haji Ecep Jaenudin, bersama Abdurohim, menjadi motor penggerak untuk mewujudkan galeri perjuangan yang berlokasi tepat di area Gedung Juang 45. Menurut mereka, keberadaan monumen saja tidak cukup jika tidak disertai dengan narasi yang kuat melalui artefak, foto, dan dokumen sejarah yang tertata rapi.
Haji Ecep Jaenudin menegaskan bahwa dorongan untuk mendirikan galeri ini murni berasal dari kegelisahan akar rumput yang merindukan identitas lokalnya kembali mencuat ke permukaan.
Galeri Gedung Juang 45 adalah sebagai respon dari banyaknya tuntutan dari masyarakat Sukabumi yang berkaitan dengan pergerakan perjuangan rakyat Sukabumi tempo dulu,” ujar Haji Ecep saat ditemui di lokasi.
Sejarah perjuangan di Sukabumi bukan sekadar catatan pinggiran. Dari peristiwa Bojongkokosan hingga pergerakan bawah tanah melawan pendudukan asing, tanah Sukabumi adalah ladang perjuangan yang basah oleh darah para pahlawan lokal. Sayangnya, data-data tersebut saat ini tersebar secara sporadis dan tidak terdokumentasi dengan sistematis yang memberikan kemudahan informasi kepada masyarakat luas.
Kondisi ini dipandang miris oleh para pemerhati sejarah. Tanpa adanya galeri, sejarah hanya akan menjadi dongeng lisan yang rawan mengalami distorsi.
Galeri perjuangan di Gedung Juang 45 diharapkan menjadi “jembatan waktu” yang menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan visi masa depan pemuda Sukabumi.
“Selama ini, masyarakat terutama pelajar harus mencari informasi secara mandiri dari sumber-sumber yang terbatas.
Belum ada galeri atau museum perjuangan yang terpusat di Sukabumi. Maka, kami memandang perlu ada galeri perjuangan yang berlokasi di Gedung Juang 45 agar nilai historis bangunan ini kembali hidup,” tambah Ecep.
Pilihan lokasi di Gedung Juang 45 bukanlah tanpa alasan. Bangunan ini secara historis adalah episentrum pergerakan. Mengubah salah satu sudutnya menjadi galeri modern akan memberikan fungsi ganda: pelestarian bangunan cagar budaya sekaligus pusat literasi sejarah.
Melalui galeri ini, nantinya pengunjung tidak hanya disuguhi pajangan benda mati, melainkan juga alur cerita (storytelling) yang membawa mereka merasakan atmosfer perjuangan masa lalu. Harapannya, galeri ini menjadi katalisator bagi para peneliti, akademisi, dan wisatawan untuk lebih mengenal wajah asli Sukabumi dari sudut pandang sejarah perjuangan.
Pembangunan galeri sejarah bukan sekadar urusan fisik bangunan, melainkan investasi nilai. Langkah yang diinisiasi oleh PWSI ini diharapkan mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun sektor swasta, guna memastikan marwah perjuangan rakyat Sukabumi tidak lekang oleh waktu.
Dengan hadirnya galeri di Gedung Juang 45, Sukabumi tidak hanya akan dikenal sebagai kota dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai kota yang menghargai tetes keringat dan darah para pendahulunya. Inilah saatnya mengembalikan identitas perjuangan ke rumah asalnya.
Reporter : Muhidin
Editor. : Purnama
